Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan
Sumber Daya
Oleh : Sunardi-CGP Angkatan 4 Kabupaten Sukoharjo
Sumber
daya di sekolah merupakan sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat
interaksi antara faktor biotik (murid, guru, tendik, kepala sekolah, pengawas
sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar) dan abiotik (sarana, prasarana dan
keuangan), seorang pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumberdaya
dapat diawali dari lingkaran terkecil di dalam sekolah, yakni di dalam
lingkungan kelas, di luar kelas/dilingkungan sekolah, menuju lingkaran
yang lebih luas yakni masyarakat sekitar sekolah.
Dalam
implementasi pengelolaan sumber daya di sekolah sangat disarankan menggunakan
pendekatan berbasis aset (Asset Based
Thinking) dan tidak disarankan menggunakan pendekatan berbasis kekurangan (Deficit Based Thinking).
Pendekatan berbasis aset (Asset
Based Thinking) adalah pendekatan yang menekankan pada kekuatan berfikir
positif untuk mengoptimalkan potensi yang ada, sedangkan pendekatan berbasis
kekurangan adalah pendekatan yang berpusat pada kekurangan, apa yang
mengganggu, dan apa yang tidak bekerja.
Dari
uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa yang dimaksud dengan “Pemimpin
Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya” adalah seorang pemimpin yang
memiliki kemampuan untuk mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan
potensi sumber daya/ 7 aset utama (modal manusia, sosial, fisik, alam/
lingkungan, finansial, politik, agama dan budaya) daerah/ sekolahnya dengan
pendekatan berbasis aset (Asset Based
Thinking), selanjutnya memanfaatakan dan memberdayakan asset-aset tersebut
seoptimal mungkin untuk mewujudkan perubahan dalam pembelajaran yang berpihak
pada murid.
Pengelolaan
sumber daya yang tepat akan memaksimalkan peran dan fungsi dari setiap sumber
daya sehingga proses pembelajaran murid lebih bervariasi, berdiferensiasi,
serta mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumberdaya sehingga proses
pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Pengelolaan sumber daya berbasis
asset berfokus pada kekuatan atau potensi murid, sehingga respon murid lebih
kreatif. Jika hal ini dilakukan secara berkelanjutan dan terukur tentu akan
membawa perubahan dan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih bermakna.
Koneksi
antar materi modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya
dengan modul-modul sebelumnya sangatlah terkait, dan keterkaitan itu terangkum
dalam definisi pendidikan munurut KHD, “ Maksud pendidikan itu adalah menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun
anggota masyarakat”. Kata-kata kunci dalam kalimat tersebut merupakan
keterkaitan antara modul 3.2 dengan beberapa modul yang telah dipelajari
sebelumnya. Secara rinci akan kami uraikan sebagai berikut:
Pada subtansi Modul 1.1
Refleksi Filosofi Pendidikan KHD dapat kita ambil penjelasanya :
Anak-anak/murid adalah aset yang kita optimalkan untuk didik sesuai kodrat alam
dan kodrat zamannya.
Pada subtansi Modul 1.2
Nilai dan Peran Guru Penggerak dapat kita ambil penjelesanya : Manusia adalah
orang dewasa, dalam hal ini adalah guru yang menyadari segala peran dan nilai
yang melekat dalam dirinya. Pemetaan aset guru berdasarkan pemahaman terhadap 5
peran (menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong
kolaborasi antar guru, mewujudkan kepemimpinan murid) dan 5 nilai (mandiri,
reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid), yang diyakini
merupakan aset untuk menuntun tumbuh kembang anak-anak/ murid sesuai dengan
potensi yang ada dalam diri mereka.
Pada subtansi Modul 1.3 Visi
Guru Penggerak penjelasanya adalah : Mencapai disini adalah menacapai cita-cita
murid, guru, dan sekolah. Untuk mencapai cita-cita bersama harus ditentukan
dulu tujuan yang jelas dan disepakati bersama. Setelah cita-cita bersama
disepakati dalam sebuah visi sekolah maka langkah selanjutnya adalah menyusun
langkah pencapaian visi dengan melakukan pendekatan inquiry apresiatif (IA)
BAGJA dengan memperhatikan 7 aset utama yang ada dan berpedoman pada pendekatan
berbasis aset.
Pada Subtansi Modul 1.4
Budaya Positif penjelesannya adalah : Mereka adalah murid-murid yang kita
didik, dan merupakan asset utama disekolah. Dengan pemetaan berbasis asset akan
fokus pada hal-hal positif yang ada dalam diri murid, yang pada akhirnya akan
menumbuhkan budaya positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang
nyaman dan kondusif.
Pada subtansi Modul 2.1
Memenuhi Kebutuhan Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, penjelesannya
adalah : Menyadari setiap anak dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda, dan
perbedaan itu sendiri adalah asset yang memperkaya keragaman, maka pembelajaran
berdiferensiasi menjadi solusi terbaik untuk memfasilitasi dan menyatukan
keragaman dalam bingkai merdeka belajar.
Pada Subtansi Modul 2.2
Pembelajaran Sosial Emosional penjelesanya adalah: Pembelajaran sosial
emosional diperlukan agar semua warga sekolah memiliki kemampuan untuk
berempati, memiliki kesadaran diri, dan pengelolaan diri yang baik. Dengan
demikian upaya untuk mengantarkan murid, guru, dan semua warga sekolah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing) dapat tercapai.
Pada subtansi Modul 2.3
Coaching, penjelesanya adalah : Praktek coaching dilakukan untuk menuntun
kekuatan kodrat agar murid, guru, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan
potensinya. Dengan coaching mereka akan mampu menemukan jalan keluar dari
permasalahan yang mereka hadapi, mereka juga akan dapat menentukan tujuan yang
diharapkan.
Pada subtansi Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran penjelesanya adalah :
Kemampuan seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan
mempengaruhi pencapaian tujuan maksud pendidikan. Sebab dalam
perjalanannya akan berhadapan dengan situasi dilema etika maupun bujukan moral.
Dengan pengetahuan pengambilan keputusan yang baik, maka seorang pemimpin
pembelajaran akan mampu menyelesaikan masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3
prinsip, dan 9 langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian pemimpin
dapat melakukan pemetaan aset dengan tepat dan dapat diberdayakan secara
optimal.
Pada Subatansi Modul 3.2
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya penjelesanya adalah : Kemampuan seorang
pemimpin pembelajaran dalam mengelola 7 aset/ modal utama di daerah/ sekolahnya
adalah sebuah kekuatan untuk pencapaian tujuan pendidikan yakni mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (wellbeing).
Hubungan
antara sebelum dan sesudah saya mengikuti pelatihan terkait modul 3.2 adalah
adanya perubahan paradigma baru dalam berfikir dan menghadapi sesuatu hal.
Jika sebelumnya maindset saya
fokus pada kekurangan atau masalah yang dihadapi, sekarang maindset saya berfokus pada kekuatan/ aset. Adapun pemikiran yang
sudah berubah di diri saya setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul
ini yaitu mulai berfikir untuk berkolaborasi dengan pemangku kepentingan,
sebelumnya berjalan sendiri tanpa kolaborasi; mulai membuat program berdasarkan
visi-misi dan kekuatan sekolah, sebelumnya membuat proyek/ program untuk memecahkan
masalah; mulai berfokus pada aset untuk pengembangan sumberdaya, sebelumnya
fokus pada meminta/ mencari bantuan orang lain; mulai membiasakan diri dengan
pertanyaan yang memberdayakan seperti “apa yang sudah berhasil?”, “bagaimana
strategi agar membuatnya lebih berhasil?”, “apa saja yang kita miliki?”.inilah
langkah sederhana yang aka saya coba lakukan semoga seantiasa diberikan
kemudahan, kelancaran dan barokah untuk semuanya..Aamiin Yaa Robbal’alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar