Jumat, 17 Juni 2022

Pennanaman Budaya Kerja Industri pada siswa kelas XII Teknik Mekatronika

  

PENANAMAN BUDAYA KERJA INDUSTRI BAGI SISWA KELAS XII TEKNIK MEKATRONIKA MENJELANG UJI KOMPETENSI KEAHLIAN

Sunardi-CGP-Angkatan 4 Kabupaten  Sukoharjo

A. PERISTIWA (FACT)

Pasca Pandemi Covid-19 yang berlangsung cukup lama menjadikan sekolah berdamapak dalam proses belajar mengajar siswa SMK, sementara di  akhir Pembelajaran siswa harus mampu mengaerjakan soal Praktik dan di uji oleh Pihak Penguji Eksternal atau  Industri, ..Rendahnya minat baca pada peserta didik SMK Negeri 2 Sukoharjo dan kurangnya latihan praktik sehingga  membawa dampak pada kegiatan pembelajaran banyak faktor yang mendorong hal ini terjadi. Budaya belajar dan praktik di bengkel semakin menurun oleh kehadiran Smartphone android. Siswa lebih tertarik membaca potongan – potongan tulisan dan menonton video yang ada di sosial media ini menunjukan minat baca ada namun daya baca rendah dan kemampuan praktik juga kurang , sehingga hal ini mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Siswa menjadi kurang aktif dan kurang percaya diri ketika akan mengikuti Uji Kompetensi Kejuruan karena kurangnya latihan praktik dan wawasan yang di miliki, sehingga kurang percaya diri untuk  berani tampil di depan maju satu persatu untuk praktik.

Program penanaman budaya industri ini saya kerja sama dengan PT.Sritex Tbk, sebagai mitra kamai , Budaya Industri ini  merupakan hal yang penting  yang harus di miliki siswa. Sebagian proses ujia kompetensi di pelajaran Praktik di Bengkel  bergantung pada kemampuan dan kesadaran untuk banyak membaca dan berlatih dalam menggunakan alat dan bahan yang tepat dan benar ,kemampuan ini meliputi seluruh keterampilan di kompetensi  dasar di industri yaitu memahami budaya Disiplin, Tertib, Terampil, dan juga mengikuti budaya 5 R atau 5 S sehingga dalam program uji kompetensi ini sesuai dengan salah satu karakteristik dari 7 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepemimpinan murid yaitu lingkungan yang melatih keterampilan yang di butuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non akademik.

Yang dilakukan pada aksi nyata berikut alasan mengapa melaksanakan aksi nyata?

Aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid di maksudkan untuk mewujudkan  kepemimpinan murid, program ini di lakukan dengan harapan siswa Teknik Mekatronika  bisa menumbuhkan sikap berani dalam dirinya, berani tampil dan siap untuk melaksanakan uji kompetensi yang di uji dari Perusahaan sehingga denganmelalui proses ini siswa semakin mantap dan siap dalam memasuki dunia kerja atau dunia industry.

 Aksi nyata ini di lakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR Yang dilakukan guna memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Selain itu alasan utama dibalik program ini adalah pada terwujudnya wellbeing siswa atau student wellbeing  dan perkembangan siswa secara holistik, siswa yang bahagia. dan juga memiliki nilai – nilai pribadi yang unggul, berbudaya serta memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Tujuan Utama melaksanakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut :

·       Membangun kesadaran siswa atas pentingnya belajar dan melakukan  proses belajar dan praktik dengan mengaju budaya kerja industri yang sebenarnya

·       Menumbuhkan kemampuan ketrampilan siswa

·       Menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa

·       Menjadikan kegiatan ini sebagai budaya positif di sekolah

·       Melatih kemandirian siswa dalam memecahkan masalah dalam setiap praktik

·       Menumbuhkan budi pekerti dan kepribadian yang baik kepada siswa

Hasil Aksi Nyata yang di lakukan


                                         Dokumentasi sosialisasi program saat Apel Pagi

 

Sosialsisasi Budaya Kerja melalui Running Tex dan MMT di bengkel-bengkel SMK Negeri 2 Sukoharjo


Pengarahan dan Motivasi langsung dari HRD PT. Sritex Tbk Bapak Ir. Sri Saptono Basuki, MM

 


               Pengarahan Teknis oleh Bapak Sunardi, S.Pd.,M.Pd

 


Melatih Jiwa Mandiri dan Kreatifitas

 siswa satu persatu untuk berani tampil kedepan


 

Evaluasi kegiatan oleh Bapak Penguji Eksternal  Bapak . Ir. Sri Saptono Basuki, MM

Dengan terlaksananya program ini ,  maka program ini pada dasarnya di rancang untuk menjadi wadah berkreasi dan berinovasi bagi siswa saat menjelang akan diadakan uji kompetensi agar siswa percaya diri dan siap betul dilakukan uji kompetensi  dan menumbuhkan keberanian untuk tampil  dan juga mengedukasi siswa akan penitingnya budaya industry. Siswa-siswi perlu di perkenalkan betapa pentingnya kegiatan penanaman budaya kerja dan budaya industri yang dilakukan sehingga sebagai generasi muda penerus bangsa akan selalu menjunjung budaya yang ada untuk kemajuan pendidikan pada umumnya.. Program ini di perlukan sebuah pembiasaan yang menjadi sebuah budaya. Dengan pelaksanan kegiatan  yang rutin dan berkelajutan dari program ini maka dampak pada murid dalam hal meningkatkan kompetensi dan mengasah kreatifitas siswa serta jiwa kepemimpinan dan juga kepedulian akan pentingnya persiapan diri untuk mengikuti uji kompetensi dan masuk dunia kerja atau dunia industri.

Hasil aksi nyata di SMK Negeri 2 Sukoharjo ini menunjukan bahwa ada perkembangan  terutama jika dibandingkan dengan siswa yang pasca pandemic ini langsung praktik dengan siswa yang ada pembinaan khusus sebelum memulai proses belajar mengajar dan uji kompetensi  yang bombing dan dimotivasi oleh guru dengan menghadirkan dari indusri  sehingga ini bias menjadi bagian  budaya bagi murid – murid ketika akan ujia atau praktik yang diuji dari pihak indsutri  . Satu hal yang menjadi saya bangga sebagai guru mata pelajaran adalah  peserta didik mampu meningkatkan kemampuan pengetahuan dan ketrampilan secara mandiri dan lebih kreatif, membuat otak mereka bisa bekerja secara optimal, menambah wawasan, mempertajam diri dalam menangkap informasi dari sumber informasi yaitu memiliki jiwa kepemimpinan yang kompeten , terampil dan dengan keberanian penuh mampu menciptkan seorang pemimpin yang mampu menjadi calon-calon tehnisi yang handal dan professional.

Kegiatan pembinaan tentang budaya kerja dan budaya industry dari perusahaan yang di lakukan di SMK Negeri 2 Sukoharjo  di atas menunjukan bahwa kegiatan ini tidak semata – mata di lakukan di dalam ruangan bengkel  untuk  uji kompetensi namun juga bisa untuk persiapan belajar praktik harian yang digunakan untuk menyiapkan siwa agar lebih siap mental dan termotivasi lebih baik lagi  untuk memilih sesuai dengan bakat dan minatnya . dengan demikian apapun yang menjadi minat dan bakat peserta didik dapat di salurkan dengan baik dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah demi peningkatan potensi peserta didik.



B.PERASAAN (FEELING)

Perasaan saat merencanakan aksi nyata ini program yang berdampak pada murid ini adalah  merasa tertantang karena program ini harus menekankan pada aspek dampak langsung pada diri siswa misalnya tentang budaya kerja yang sesungguhnya dan budaya industri yang sebenarnya, disamping itu juga dengan rasa, keimanan,  kedispilinan,dan aspek lainnya insya Allah kemampuan kepemimpinan bisa menjadi bekal siswa untuk kehidupan yang lebih baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Perasaan saat program ini terlaksana perasaan bahagia dan juga optimis dengan pencapaian program dengan pencapaian program yang sudah berjalan, terlaksananya program ini tidak terlepas dari kolaborasi semua pemangku kepentingan terutama siswa yang sangat antusias terlibat dalam program penanaman budaya kerja dan budaya industri ini . Saya pun bertambah antusias terlibat dalam program penamanan budaya kerja dan budaya indsutri ini karena langsung hadir Beliau HRD PT. Sritex di Sekoklah , Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan. Bahkan di akhir pelaksanaan program juga diadakan serah terima sertifikat uji kompetensi dari PT Sritex Tbk yang secara simbolik diberikan kepada Ibu Kepala Sekolah,

Penyerahan sertifikat secara Simbolik oleh HRD PT. Sritex Tbk

dengan Ibu Kepala Sekolah

 

C.PEMBELAJARAN ( FINDING) YANG DI DAPAT DARI PELAKSANAAN AKSI NYATA.

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata adalah terwujudnya kepemimpinan murid dalam budaya kerja dan budaya industry  untuk peningkatan kompetensi minat bakat serta jiwa kepemimpinan, terwujudnya  karakter siswa yang memiliki pengetahuan dann kompetensi yang maksimal dan siap kerja didunia kerja atau dunia industry, karena dari program ini siswa menjadi berani tampil dan mengekspresikan bakat maupun potensinya pada akhirnya besar harapan saya bahwa program ini akan bisa mewujudkan profil  pelajar pancasila.

Dari aksi nyata ini saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu bagiamana saya menyusun dan mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan pemetaan aset model BAGJA. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk suksesnya program ini. Saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas sajanamun harus peduli dan ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid .

D. PENERPAN KEDEPAN (FUTURE) RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELKASANAAN DI MASA DEPAN

Recana perbaikan ke depan yaitu  lebih mengaktifkan kembali kegiatan intrakurikuler di lingkungan sekolah untuk memberikan bimbingan dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat anak selain itu kedepannya perlu pemberian apresiasi berupa reward kepada siswa yang memiliki prestasi akademik sebagai bentuk dukungan untuk menambah semangat anak menampilkan kreatifitas dalam melakukan penerapan budaya kerja dan budaya indsutri yang konsisten . Selain itu perlu peningkatan kolaborasi guru ,siswa dalam hal kegiatan persiapan uji kompetensi yang menghadirkan motivator dari industri butuh pendampingan dan bimbingan dari guru produktif lainya pada saat melakukan kegiatan persiapan motivasi atau penanaman budaya kerja dan budaya indsutri dari perusahaan  agar program dapat berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Demikian semoga dimudahkan dan lancar semuanya. Aamiin

 

 

 

 

Minggu, 05 Juni 2022

Jurnal Refleksi

 

JURNAL REFLEKSI

Perjalanan Pendidikan Calon Guru Penggerak telah sampai pada minggu terakhir dibulan mei saya dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam LMS yaitu mengikuti kegiatan elaborasi pemahaman Modul 3.2 bersama Instruktur Bapak Agni Yoga Airlangga dari Instansi Erudio Indonesia dan mengerjakan tentang koneksi antar materi dan kegiatan aksi nyata dari implementasi modul 3.2 Mengenai Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.  Dalam mengerjakan  tugas pada minggu ini saat proses membuat koneksi materi aksi langsung banyak memberikan pengalaman secara positif, karena untuk tugas koneksi antar materi dan  aksi nyata ini sangat terikat sekali dalam Pengelolaan Sumber Daya yaitu yang meliputi ekosistem sekolah antara factor biotik dan abiotik. Melalui pemahaman modul 3.2 ini  ada  beberapa hal yang dapat saya refleksikan dengan model 4 F sebagai berikut :

Fact  (Peristiwa) Dalam proses pembelajaran melalui system LMS yaitu  tentang  Modul 3.2 Pengelolan Sumber daya dan saya mencoba membuat artikel artikel tentang koneksi antar materi  modul-modul sebelumnya adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam implementasi pengelolaan sumber daya di sekolah sangat disarankan menggunakan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) dan tidak disarankan menggunakan pendekatan berbasis kekurangan (Deficit Based Thinking).  Pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) adalah pendekatan yang menekankan pada kekuatan berfikir positif untuk mengoptimalkan potensi yang ada, sedangkan pendekatan berbasis kekurangan adalah pendekatan yang berpusat pada kekurangan, apa yang mengganggu, dan apa yang tidak bekerja. ungkin untuk mewujudkan perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.

Feelings (Peraasaan) Perasaan saya adalah saya senang dan terimpirasi juga dengan materi Instruktur bagaimana mengubah Mainside polapikir sehingga  setelah mencoba membuat koneksi antar materi dan mecoba membuat perencanaan aksi nyata dengan dengan menggunakan teori dalam Modul 3.2  saya dapat membuat kesimpulan “Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya” adalah seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan potensi sumber daya/ 7 aset utama (modal manusia, sosial, fisik, alam/ lingkungan, finansial, politik, agama dan budaya) daerah/ sekolahnya dengan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking), selanjutnya memanfaatakan dan memberdayakan asset-aset tersebut seoptimal m

Finding (Pembelajaran) Dalam proses  pengerjaan tugas di LMS pada minggu ini utamannya mengikuti kegiatan elaborasi pemahaman, membuat koneksi dam aksi nyata dalam modul 3.2  Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya saya dapat belajar mengenai pentingnya seorang guru memiliki kompetensi yang mampu mengelola sumber daya dalam suatu ekosistem sekolah baik biotik ataupun abiotik. Hal baru yang saya dapatkan dalam pembelajaran modul 3.2 ini  adalah bagaimana saya mampu mengubah polapikir dari berbagai sumber daya yang ada baik: modal manusia, modal fisik, modal social, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya sehingga akhirnya saya bisa melakukan kegiatan aksi nyata yang terencana, terprogram dan beriphak pada murid.

Future ( Penerapan ) Setelah mengerjakan tugas koneksi antar materi dan membuat perencanaan aksi nyata pada  modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolan Sumber Daya saya melalui jurnal refleksi ini saya mencoba menghubungkan dari modul-1.1, 1.2, 1.3, 2.1, 2,2, 2.3, dan Modul 3.1 adalah adanya perubahan paradigma baru dalam berfikir dan menghadapi sesuatu hal.  Jika sebelumnya maindset saya fokus pada kekurangan atau masalah yang dihadapi, sekarang maindset saya berfokus pada kekuatan/ aset. Adapun pemikiran yang sudah berubah di diri saya setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini yaitu mulai berfikir untuk berkolaborasi dengan pemangku kepentingan, sebelumnya berjalan sendiri tanpa kolaborasi; mulai membuat program berdasarkan visi-misi dan kekuatan sekolah, sebelumnya membuat proyek/ program untuk memecahkan masalah; mulai berfokus pada aset untuk pengembangan sumberdaya, sebelumnya fokus pada meminta/ mencari bantuan orang lain; mulai membiasakan diri dengan pertanyaan yang memberdayakan seperti “apa yang sudah berhasil?”, “bagaimana strategi agar membuatnya lebih berhasil?”, “apa saja yang kita miliki?”.inilah langkah sederhana yang aka saya coba lakukan semoga seantiasa diberikan kemudahan, kelancaran dan barokah untuk semuanya..Aamiin Yaa Robbal’alamin.

 

 

Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Oleh : Sunardi-CGP Angkatan 4 Kabupaten Sukoharjo

 

Sumber daya di sekolah merupakan sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat interaksi antara faktor biotik (murid, guru, tendik, kepala sekolah, pengawas sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar) dan abiotik (sarana, prasarana dan keuangan), seorang pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumberdaya dapat diawali dari lingkaran terkecil di dalam sekolah, yakni di dalam lingkungan kelas, di luar kelas/dilingkungan sekolah,  menuju lingkaran yang lebih luas yakni masyarakat sekitar sekolah.

Dalam implementasi pengelolaan sumber daya di sekolah sangat disarankan menggunakan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) dan tidak disarankan menggunakan pendekatan berbasis kekurangan (Deficit Based Thinking).  Pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) adalah pendekatan yang menekankan pada kekuatan berfikir positif untuk mengoptimalkan potensi yang ada, sedangkan pendekatan berbasis kekurangan adalah pendekatan yang berpusat pada kekurangan, apa yang mengganggu, dan apa yang tidak bekerja.

Dari uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa yang dimaksud dengan “Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya” adalah seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan potensi sumber daya/ 7 aset utama (modal manusia, sosial, fisik, alam/ lingkungan, finansial, politik, agama dan budaya) daerah/ sekolahnya dengan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking), selanjutnya memanfaatakan dan memberdayakan asset-aset tersebut seoptimal mungkin untuk mewujudkan perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.

Pengelolaan sumber daya yang tepat akan memaksimalkan peran dan fungsi dari setiap sumber daya sehingga proses pembelajaran murid lebih bervariasi, berdiferensiasi, serta mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumberdaya sehingga proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Pengelolaan sumber daya berbasis asset berfokus pada kekuatan atau potensi murid, sehingga respon murid lebih kreatif. Jika hal ini dilakukan secara berkelanjutan dan terukur tentu akan membawa perubahan dan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih bermakna. 

Koneksi antar materi modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan modul-modul sebelumnya sangatlah terkait, dan keterkaitan itu terangkum dalam definisi pendidikan munurut KHD, “ Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat”. Kata-kata kunci dalam kalimat tersebut merupakan keterkaitan antara modul  3.2 dengan beberapa modul yang telah dipelajari sebelumnya. Secara rinci akan kami uraikan sebagai berikut:

Pada subtansi Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan KHD dapat kita ambil penjelasanya : Anak-anak/murid adalah aset yang kita optimalkan untuk didik sesuai kodrat alam dan  kodrat zamannya.

Pada subtansi Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dapat kita ambil penjelesanya : Manusia adalah orang dewasa, dalam hal ini adalah guru yang menyadari segala peran dan nilai yang melekat dalam dirinya. Pemetaan aset guru berdasarkan pemahaman terhadap 5 peran (menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, mewujudkan kepemimpinan murid) dan 5 nilai (mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid), yang diyakini merupakan aset untuk menuntun tumbuh kembang anak-anak/ murid sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka. 

Pada subtansi Modul 1.3 Visi Guru Penggerak penjelasanya adalah : Mencapai disini adalah menacapai cita-cita murid, guru, dan sekolah. Untuk mencapai cita-cita bersama harus ditentukan dulu tujuan yang jelas dan disepakati bersama. Setelah cita-cita bersama disepakati dalam sebuah visi sekolah maka langkah selanjutnya adalah menyusun langkah pencapaian visi dengan melakukan pendekatan inquiry apresiatif (IA) BAGJA dengan memperhatikan 7 aset utama yang ada dan berpedoman pada pendekatan berbasis aset.

Pada Subtansi Modul 1.4 Budaya Positif penjelesannya adalah : Mereka adalah murid-murid yang kita didik, dan merupakan asset utama disekolah. Dengan pemetaan berbasis asset akan fokus pada hal-hal positif yang ada dalam diri murid, yang pada akhirnya akan menumbuhkan budaya positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.

Pada subtansi Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, penjelesannya adalah : Menyadari setiap anak dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda, dan perbedaan itu sendiri adalah asset yang memperkaya keragaman, maka pembelajaran berdiferensiasi menjadi solusi terbaik untuk memfasilitasi dan menyatukan keragaman dalam bingkai merdeka belajar.

Pada Subtansi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional penjelesanya adalah: Pembelajaran sosial emosional diperlukan agar semua warga sekolah memiliki kemampuan untuk berempati, memiliki kesadaran diri, dan pengelolaan diri yang baik. Dengan demikian upaya untuk mengantarkan murid, guru, dan semua warga sekolah mencapai keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing) dapat tercapai.

Pada subtansi Modul 2.3 Coaching, penjelesanya adalah : Praktek coaching dilakukan untuk menuntun kekuatan kodrat agar murid, guru, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensinya. Dengan coaching mereka akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi, mereka juga akan dapat menentukan tujuan yang diharapkan.

Pada subtansi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran penjelesanya adalah : Kemampuan seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempengaruhi pencapaian tujuan maksud pendidikan.  Sebab dalam perjalanannya akan berhadapan dengan situasi dilema etika maupun bujukan moral. Dengan pengetahuan pengambilan keputusan yang baik, maka seorang pemimpin pembelajaran akan mampu menyelesaikan masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian pemimpin dapat melakukan pemetaan aset dengan tepat dan dapat diberdayakan secara optimal.

Pada Subatansi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya penjelesanya adalah : Kemampuan seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola 7 aset/ modal utama di daerah/ sekolahnya adalah sebuah kekuatan untuk pencapaian tujuan pendidikan yakni mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (wellbeing). 

Hubungan antara sebelum dan sesudah saya mengikuti pelatihan terkait modul 3.2 adalah adanya perubahan paradigma baru dalam berfikir dan menghadapi sesuatu hal.  Jika sebelumnya maindset saya fokus pada kekurangan atau masalah yang dihadapi, sekarang maindset saya berfokus pada kekuatan/ aset. Adapun pemikiran yang sudah berubah di diri saya setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini yaitu mulai berfikir untuk berkolaborasi dengan pemangku kepentingan, sebelumnya berjalan sendiri tanpa kolaborasi; mulai membuat program berdasarkan visi-misi dan kekuatan sekolah, sebelumnya membuat proyek/ program untuk memecahkan masalah; mulai berfokus pada aset untuk pengembangan sumberdaya, sebelumnya fokus pada meminta/ mencari bantuan orang lain; mulai membiasakan diri dengan pertanyaan yang memberdayakan seperti “apa yang sudah berhasil?”, “bagaimana strategi agar membuatnya lebih berhasil?”, “apa saja yang kita miliki?”.inilah langkah sederhana yang aka saya coba lakukan semoga seantiasa diberikan kemudahan, kelancaran dan barokah untuk semuanya..Aamiin Yaa Robbal’alamin.

Diklat Pembelajaran Mendalam untuk Pengajar BBGTK Provinsi Jawa Tengah

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM BAGI PENGAJAR PM BBGTK PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2025 Sunardi, S.Pd.,M.Pd Peserta Diklat TOT Pembelajaran Mend...