LAPORAN AKSI NYATA BUDAYA POSITIF
TUGAS.1.4.a.10
MENANAMKAN BUDAYA KERJA/BUDAYA INDUSTRI
5
R (RINGKAS, RAPIH, RESIK, RAWAT, RAJIN ) SEBAGAI BUDAYA POSITIF
DI BENGKEL SMK NEGERI 2 SUKOHARJO
Oleh : SUNARDI-CGP.KABUPATEN SUKOHARJO
A. A. LATAR BELAKANG
Di zaman revolusi industri 4.0, kita sebagai guru atau pendidik dihadapkan
pada permasalahan krisis moral anak bangsa. Hal ini disebabkan karena sebagian
besar dari generasi muda sekarang mengikuti tren budaya dari luar tanpa
terlebih dahulu mengkaji ulang dan menyesuaikan serta menyaring budaya tersebut
ditambah lagi dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat memberikan
dampak terhadap perkembangan karakter anak. Untuk itu, kita sebagai pendidik
perlu menerapkan kembali budaya positif pada anak di lingkungan sekolah agar
nantinya mereka mampu menyaring dampak negatif dari budaya luar tersebut.
Setiap sekolah pasti mengharapkan suatu lingkungan kerja yang selalu
bersih, rapi dan masing-masing orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri,
sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas yang
tinggi di perusahaan. Namun pada kenyataannya kondisi ini sulit terjadi di
setiap perusahaan. Banyak perusahaan yang seringkali mengeluh begitu sulitnya
dan banyak membuang waktu hanya untuk mencari data dan sarana yang lupa
penempatanya. Tidak hanya itu, seringkalinya kita kurang nyaman dengan kondisi
berkas kerja yang berarntakan dan tidak jarang memicu kondisi emosional kita.
Hal ini terjadi pula di Sekolah-sekolah yang belum menerapkan budaya 5 R.
Beberapa permasalahan tersebut diatas dapat kita atasi dengan melakukan
penerapan program 5 R( Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin ) yang merupakan
adaptasi program 5 S (Seiri, Seiton,
Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) yang
dikembangkan di Negara Jepang dan sudah digunakan oleh banyak Negara di seluruh
penjuru dunia ini merupakan suatu metode sederhana untuk melakukan penataan dan pembersihan tempat
kerja yang dikembangkan dan diterapkan di Jepang. 5 R merupakan budaya tentang
bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, dan
tertib, maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan dan dengan demikian
efisiensi, produktifitas, kualitas dan keselematan kerja dapat lebih mudah
dicapai adapun maksud atau pengertian dari 5 R adalah sebagai berikut :
1.
Ringkas : Prinsip ringkas adalah
memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak
diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak diperlukan dari
tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan
disimpan serta bagaimana cara menyimpannya supaya dapat mudah diakses terbukti
sangat berguna bagi sekolah.
2.
Rapi : Prinsip rapi adalah menyimpan
barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah hal mengenai sebagaimana cepat
kita meletakkan barang dan mendapatkan kembali pada saat diperlukan dengan
mudah.
3.
Resik : Prinsip resik adalah
membersihkan tempat/lingkungan sekolah, mesin/peralatan, dan barang-barang agar
tidak terdapat debu, kotoran dan bau. Kebersihan harus dilaksanakan dan
dibiasakan oleh setiap orang mulai dari pimpinan hingga pelaksana yang ada.
4.
Rajin : Prinsip rajin adalah terciptanya
kebiasaan pribadi guru dan karyawan serta siswa untuk menjaga dan meningkatkan
apa yang sudah dicapai. Rajin di lingkungan sekolah berarti pengembangan
kebiasaan positif dlingkungan sekolah sekolah. Apa yang sudah baik harus selalu
dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip rajin dilingkungan sekolah adalah
dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.
5. Rawat : Prinsip rawat adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai pada (
Ringkas, Rapi, Resik) sebelumnya dengan membakukannya ( Standarisasi). Prinsip
ini dapat berjalan apabila dilaksanakan bersama-sama yang ada dilingkungan
sekolah.
Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar
yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini
di sekolah. Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah
disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan
kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada
anak. Beberapa nilai dari Profile Pelajar Pancasila yang dapat diintegrasikan di sekolah adalah
pembiasaan 5 R ( Ringkas, Rapih, Resik,
Rawat, Rajin, Filosofinya adalah bahwa kegiatan pembelajaran praktik di Bengkel
sekolah harus sinergi dengan budaya Industri sesuai Program Pintar Bersama
Daehatsu yaitu SEIRI (ringkas) SEITON
(rapi) SEISO (resik) SEIKETSU (rawat)
dan SHITSUKE (rajin). Inilah budaya industri dan merupakan budaya Positif yang
harus dilakukan secara konsisten untuk melatih dan membiasakan siswa-siswa smk
untuk menjadi tenaga ahli yang terampil dan siap kerja.
Upaya dalam menanamkan budaya positif di sekolah, guru memiliki peran
sentral yaitu posisi kontrol guru sebagai manajer dalam menerapkan budaya
positif. Guru juga berperan sebagai motivator dan inspirator dalam menumbuhkan
budaya positif sehingga nantinya guru akan menjadi “ing ngarso sung tulodho”
dan menjadi agen transformasi perubahan untuk mewujudkan murid yang memiliki
karakter profil pelajar Pancasila. Dalam menciptakan budaya positif, guru
tentunya harus bekerjasama dengan warga sekolah dalam hal ini kepala sekolah,
rekan-rekan guru dan juga murid serta melibatkan orangtua dan masyarakat
sekitar. Adanya kolaborasi antara pihak sekolah dengan masyarakat dalam
menjalankan buaday positif dapat menciptakan karakter murid yang memiliki
nilai-nilai pelajar Pancasila.
B.
DESKRIPSI AKSI NYATA
ü TUJUAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF
1. Mendidik siswa untuk melakukan pembiasaan 5 R yaitu SEIRI (ringkas) SEITON (rapi) SEISO (resik)
SEIKETSU (rawat) dan SHITSUKE (rajin
2. Mendidik dan menumbuhkan kebiasaan budaya praktik dibengkel laksana bekerja
sesungguhnya di Industri
3. Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan tersebut bukan hanya di sekolah melainkan Industri,
rumah dan di lingkungan masyarakat
ü TOLOK UKUR
Mewujudkan siswa yang memiliki karakater
Gotong royong, Kreatif, Mandiri dengan membiasakan Budaya 5 R di bengkel saat
Praktik sebagai bentuk budaya positif di
sekolah
ü LINIMASA TINDAKAN YANG DILAKUKAN
Adapun rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan adalah:
MINGGU I : Meminta izin dan dukungan kepada kepala
sekolah terkait aksi nyata yang akan dilakukan
MINGGU II : Berkolaborasi dengan rekan-rekan guru dan mensosialisasikan tentang kegiatan aksi nyata Budaya Positif di Sekolah
Sosialiasasi Filosofi Pendidikan sesuai Pemikiran KH Hadjar Dewantara dan Budaya
Positif kepada Bapak/Ibu Guru dan Karyawan
MINGGU III : Menerapkan budaya positif di kelas/bengkel
Disiplin positif merupakan suatu cara penerapan disiplin tanpa kekerasan
dan ancaman yang dalam praktiknya melibatkan komunikasi tentang perilaku yang
efektif antara orang tua dan anak. Pembiasaan disiplin positif secara konsisten
dapat menjadi budaya yang positif di Sekolah, adapun langkah-langkahnya sebagai
berikut :
1. Guru menyampaikan maksud dan tujuan membuat kesepakatan kelas
Dalam hal ini untuk
mengawali mebuat suatu kesepakatan kelas atau saat belajar di bengkel, guru
menjelaskan terlebih dahulu pentingnya kesepakatan atau keyakinan kelas untuk
diterapakan.
2.
Guru menjelaskan dengan media Runningtex
sebagai media menuangkan ide dan tulisan tetang budaya positif yang menjadi
pembiasaan
Adapun aksi nyata dalam membuat
keyakinan kelas yaitu dengan cara memprogram LED Runningtex yang nantinya
dipasang disemua Bengkel di SMK Negeri 2 Sukoharjo. Runningtext di Program
dengan tulisan-tulisan yang berisi ajakan untuk membiasakan Budaya Positif
budaya kerja/budaya industri di saat siswa praktik di Bengkel.
Metode yang kita lakukan adalah dengan cara menjelaskan dulu manfaat dan
hikmah pentingnya membuat keyajikan kelas, pada saat belajar atau praktik di Bengkel
untuk membiasakan Budaya 5 R sebagai budaya kerja atau budaya industri yang
harus dikalukan secara terus menerus. Siswa kita berikan Aplikasi dari Play
Store : LEDART setelah diInstal oleh siswa sendiri pada papan Trainer dengan Tulisan BUDAYA 5 R, kemudian dijadikan suatu
keyakinan kelas, dan Traininer kemudian di Pasang di Dinding Bengkel agar semua
siswa saat mengikuti Proses Pembelajaran Praktik teringat terus dan bisa
dilaksanakan.
3. Murid merespon dan mencoba menginstal program LEDART dan membuat tulisan
pada Runningtex melalui Hpnya masing-masing agar bisa tampil tulisan tentang
bengkel impian mereka
4.
Guru dan Murid berdiskusi dan memprogram
bersama dengan sofware LEDART pada runningtex tentang ide point-ponit kesepakatan
bengkel/kelas dan menyepakati usulan dan kemudian diterima menjadi kesepakatan
kelas.
5.
Guru dann murid sepakat menuliskan
kalimat motivasi untuk terus konsisten dengan kesepaktan kelas atau bengkel
yang sudah disepakati dan di tampilkan dalam Runningtex (Tulisan Berjalan )
Tentang Budaya Positif di Bengkel
6. Hasil kesepakatan kelas membuat tulisan yang menjadi pembiasaan setiap
praktik di bengkel SMK Negeri 2 Sukoharjo yaitu: Budaya 5 R : Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.
Kesepakatan kelas atau bengkel Budaya 5
R
7.
Tujuan dari kesepakatan kelas atau
bengkel ini adalah : menumbuhkan kesadaran murid dalam pembiasaan disiplin
positif sebagai budaya positif disekolah melalui kesepakatan kelas, seperti :
rasa tanggungjawab, mandiri, kreatif , inovatif dan saling menghormati atau
menghargai oran lain. Dalam kegiatan
menyusun kesepakatan kelas atau bengkel ini guru bertindak sebagai fasilitator
dalam menuntun murid selama kegiatan berdiskusi atau praktik memprogram
runningtex, sehingga murid dapat aktif mengeluarkan pendapatnya dan menuangkan
ide atau gagasannya yang positif.
MINGGU IV : Melakukan
Praktik Restitusi
Dalam pelaksanaan menerapkan budaya
5 R jika ada siswa yang masih melanggar dan belum mekakukan pembiasaan 5 R
dalam praktik di benkel maka kita lakukan refleksi untuk memastikan praktik segitiga restitusi yang kita lakukan sudah tepat atau
belum.
ü DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN
Untuk kelancaran dari tindakan aksi nyata yang dilakukan terkait budaya 5 R yang kita wujudkan dalam tulisan
Runningtex kita kerjasama dengan semua
stokholder warga sekolah khsusunya sarana dan prasarana untuk memfasilitasi
berupa runningtex sebagai media yang kita pasang di masing-masing bengkel yang
ada di SMK Negeri 2 Sukoharjo. Budaya 5 R ini merupakan penerapan dari nilai Profile
Pelajar Pancasila : nilai gotong royong, keatif, mandiri sebagai bentuk budaya
positif di sekolah yang insya Allah lebih memberikan motivasi kepada bapak/ibu
guru dan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar utamanya praktik di
bengkel.
C. HASIL AKSI NYATA
Adapun hasil aksi nyata dari kegiatan
tersebut adalah:
1. Siswa secara sadar melakukan pembiasaan 5 R yaitu SEIRI (ringkas) SEITON (rapi) SEISO (resik)
SEIKETSU (rawat) dan SHITSUKE (rajin)
Tulisan BUDAYA 5 R : Dipasang dengan Runningtex di setiap Bengkel /
Program Keahlian di SMK Negeri 2 Sukoharjo
BUDAYA RINGKAS
BUDAYA RAPI
BUDAYA RESIK
BUDAYA RAWAT
BUDAYA RAJIN
D.
KEGAGALAN DAN KEBERHASILAN
KEGAGALAN : Motivasi intrinsik dari beberapa siswa untuk sadar dan tergerak
sendiri dalam melakukan pembiasaan-pembiasaan pada kegiatan aksi nyata
KEBERHASILAN : Mampu menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan pada siswa sehingga
menjadi sebuah pembiasaan dan akhirnya menjadi budaya positif bukan hanya di
lingkungan sekolah tetapi juga nanti saat siswa melakukan Praktik Kerja
Lapangan atau di masyarakat.
E. RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG
Kegiatan sosilaiasi budaya 5 R atau budaya Industri di bengkel-bengkel yang
ada di SMK Negeri 2 Sukoharjo ini terus kita sosialsasikan, jika ada yang belum
maksimal dalam membentuk atau mewujudkan budaya ini, maka saya akan terus
menggerakkan rekan-rekan guru dengan cara menerapkan sebagai posisi kontrol dalam
menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dan menciptakan budaya positif di sekolah
serta terus membangun kolaborasi demi terwujudnya budaya positif ini. Sekian
dan terimakasih.
Sukoharjo,
22 Desember 2021
Perencana Aksi Nyata-SUNARDI,S.Pd.,M.Pd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar